fbpx

Inilah Solusi Manjur Jika Tidak Bisa Bayar Pinjaman Online, Agar Tidak Dikejar-kejar Debt Collector dari Fintech



Semakin canggihnya teknologi digital saat ini sangat mempengaruhi perkembangan bisnis. Kebanyakan pelaku bisnis tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital ini, termasuk perusahaan yang bergerak dibidang layanan pinjam meminjam uang.

Saat ini banyak perusahaan layanan pinjam meminjam uang berbondong-bondong memanfaatkan teknologi informasi atau aplikasi digital ini demi tujuan meraih lebih banyak nasabah peminjam uang.

Pemanfaatan aplikasi digital ini memang terbukti ampuh untuk menyedot banyak nasabah yang mengharapkan pinjaman mudah, cepat dan tanpa jaminan.

Sehingga tak heran jika perusahaan layanan pinjam meminjam uang dengan aplikasi digital ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Anda pasti sudah sering mendengar istilah Fintech (Financial Technology) bukan?

Perusahaan layanan pinjam meminjam uang dengan aplikasi digital ini umumnya di masyarakat disebut sebagai Fintech.

Sebuah terobosan dalam pinjam meminjam uang, dimana pihak pemberi pinjaman dan penerima pinjaman tidak perlu saling bertemu, cukup menggunakan aplikasi online dari Fintech di smartphone Anda, dalam waktu yang tidak lama pinjaman online pun langsung cair.

Hanya butuh waktu 3 hari, bahkan ada yang hanya butuh waktu 20 menit, tanpa perlu jaminan (agunan) sama sekali, dana pinjaman online langsung cair. Wow! benar-benar sangat simpel dan cepat.

Kemudahan-kemudahan inilah yang kemudian menggoda masyarakat termasuk kalangan pengusaha untuk meminjam uang secara online dari Fintech. Memang sangat menggiurkan, apalagi jika kita sangat membutuhkan dana. Inilah pasar gemuk yang menjadi alasan utama kemunculan banyak perusahaan Fintech.

Namun, dengan segala fasilitas dan kemudahan pinjaman online yang ditawarkan oleh Fintech itu tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Terutama permasalahan penagihan dan macetnya pembayaran pinjaman dari penerima pinjaman online (penerima pinjaman online ini disebut sebagai “debitur”).

Banyak pihak yang tergiur ingin mendapatkan pinjaman uang secara kilat kemudian memanfaatkan aplikasi Fintech, tanpa memikirkan kemampuan untuk membayar dan resiko jika tidak bayar pinjaman online.

Demi pelunasan pinjaman uang yang telah dicairkan, perusahaan-perusahaan Fintech pun tidak tinggal diam. Berbagai upaya pun dilakonkan, ada yang memakai cara normal atau sesuai prosedur peraturan, ada pula yang memakai cara yang abnormal atau tidak sesuai prosedur peraturan.

Salah satu kasus pinjaman online yang sempat heboh dan ramai diberitakan, yaitu perusahaan Fintech berinisial “RP” yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran untuk mengejar pelunasan pinjaman online yang sudah dicairkan.

Kasus ini bermula dari debitur yang tidak membayar pinjaman online dari RP (sebut saja nama debitur ini “S”). Dikabarkan S tidak berinisiatif untuk membayar, bahkan ingin melarikan diri.

RP kemudian menggencarkan upaya-upaya demi pelunasan pinjaman online tersebut, salah satunya dengan meneror data pribadi, yaitu menghubungi teman SMP dari S (sebut saja namanya “AA”), padahal AA ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pinjaman online yang diterima S.

Bahkan dikabarkan kalau AA tidak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi dengan S lebih dari 10 tahun.

AA menerima pesan WhatsApp dari RP, isi pesan itu meminta AA untuk menyampaikan pesan kepada S agar melunasi utangnya. Kabar yang beredar bahwa pesan itu tertulis dengan kata kasar dan tersirat nada ancaman.

Coba bayangkan kalau Anda sebagai debitur yang mengalami kejadian ini, mau dibawa ke mana muka Anda, pasti Anda akan sangat malu.

Cara tersebut tentu sangat tidak beretika dan bermartabat, serta tidak sesuai dengan norma peraturan yang berlaku. Semena-mena meneror pihak yang tidak ada sangkut pautnya dengan pinjaman online, ditambah lagi dengan tulisan perkataan kasar dan bernada mengancam (seandainya semua Fintech seperti ini, dijamin masyarakat jadi ngeri dan alergi pinjam uang dari Fintech).

Contoh kasus di atas memang menyeramkan. Namun, perlu Anda ketahui tidak semua Fintech seperti itu, masih banyak juga Fintech yang mengutamakan etika, prosedur dan peraturan yang berlaku dalam melakukan penagihan terhadap debiturnya.

Namun, untuk mencegah kejadian serupa terjadi pada Anda, mari kita mengupas bagaimana solusi manjur jika tidak bisa bayar pinjaman online.

Tapi, sebelum kita lanjut, ayo diseruput dulu kopi hangatnya, biar mata dan pikiran makin segar…

Sebelum mengulik lebih dalam mengenai solusi terhadap permasalahan pembayaran pinjaman online, perlu dipahami dulu apa itu pinjaman online menurut hukum. Dalam bahasa hukum ini disebut layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

Menurut Pasal 1 angka 3 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (POJK 77/2016) :

Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam dalam mata uang rupiah.

Untuk kegiatan usaha perusahaan Fintech diatur pada Pasal 5 ayat (1) POJK 77/2016, yakni :

Penyelenggara menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dari pihak Pemberi Pinjaman kepada pihak Penerima Pinjaman yang sumber dananya berasal dari pihak Pemberi Pinjaman.

Jadi, perusahaan Fintech disini berperan sebagai perantara yang mempertemukan antara pemberi pinjaman (pemilik dana) dengan penerima pinjaman yang membutuhkan dana.

Dalam pelaksanaan pinjam meminjam uang secara online sangat membutuhkan sebuah dokumen perjanjian atau kontrak. Untuk menjawab kebutuhan akan kontrak ini, sebuah perusahaan Fintech akan menyediakan sebuah dokumen kontrak dalam bentuk elektronik secara online.

Ada 2 kontrak yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pinjam meminjam uang melalui perusahaan Fintech, ini diatur pada Pasal 18 POJK 77/2016, yakni :

Perjanjian pelaksanaan Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi meliputi:

a. perjanjian antara Penyelenggara dengan Pemberi Pinjaman; dan

b. perjanjian antara Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman.

Kontrak yang pertama yaitu kontrak antara perusahaan Fintech dengan pemilik dana (dana yang akan diserahkan kepada penerima pinjaman).

Kontrak yang kedua yaitu kontrak antara pemilik dana dengan dengan penerima dana pinjaman.

Ok, kembali ke laptop (pinjam istilah dari Tukul Arwana). Bagaimana solusi manjur jika tidak bisa bayar pinjaman online?

Inilah solusi yang bisa Anda lakonkan jika Anda terlilit kasus pembayaran pinjaman online yang menunggak.

#1 Baca dan pahami kontrak.

Hal paling penting yang perlu Anda lakukan adalah memahami isi kontrak yang telah Anda buat dengan pihak pemberi pinjaman. Dalam kontrak ini mengatur mengenai suku bunga pinjaman, jangka waktu pembayaran, ketentuan mengenai denda keterlambatan pembayaran (jika ada), serta mekanisme penyelesaian sengketa.

Cermati dengan teliti isi kontrak mengenai mekanisme penyelesaian sengketa jika Anda terlambat atau tidak sanggup untuk membayar utang pinjaman online.

Perlu dipahami bahwa kontrak mengikat para pihak yang membuatnya, yaitu Anda dengan pihak pemberi pinjaman. Kontrak ini berlaku sebagai undang-undang diantara Anda dengan perusahaan Fintech.

Untuk lebih memahami fungsi kontrak silahkan baca artikel ini, KLIK Inilah Alasan Utama Kenapa Anda Harus Membuat Kontrak untuk Melindungi Bisnis Anda dari Kebangkrutan!

Setelah Anda memahami isi kontrak, Anda akan mengetahui apa kelemahan dan kekuatan Anda, sehingga Anda mempunyai bekal untuk melakukan pembicaraan dengan perusahaan Fintech.

#2 Bicarakan dengan pihak perusahaan Fintech.

Menjelang tanggal jatuh tempo pinjaman, biasanya perusahaan Fintech akan mengirimkan pesan teks pengingat (notifikasi) kepada Anda. Apabila Anda belum juga melakukan pembayaran setelah tanggal jatuh tempo pinjaman, maka perusahaan Fintech akan kembali mengirimkan pesan teks pengingat (notifikasi) kepada Anda.

Setelah menerima notifikasi tersebut, segera hubungi perusahaan Fintech bersangkutan paling lambat 30 hari setelah tanggal jatuh tempo pinjaman. Coba bicarakan dengan perusahaan Fintech dan jelaskan kalau Anda punya itikad baik untuk melunasi utang. Jelaskan juga mengenai kesulitan keuangan Anda dan ajukan permohonan keringanan atau solusi terbaik untuk pembayaran pinjaman Anda.

Perlu diketahui bahwa Anda tidak bisa menghubungi langsung pihak pemberi pinjaman (pemilik dana) karena Anda tidak punya hak akses atas informasi pihak pemberi pinjaman.

Anda tidak perlu panik karena persoalan pembayaran pinjaman ini biasanya tidak langsung di bawa ke jalur hukum. Ada mekanisme penyelesaian pinjaman bermasalah secara administrasi perkreditan.

Jangan pernah coba-coba menghindari atau lari dari tanggung jawab untuk melunasi utang Anda, karena perusahaan Fintech juga bisa menghubungi nomor darurat (Emergency Contact) yang telah Anda berikan sewaktu pengajuan pinjaman online.

Emergency Contact ini biasanya terdiri dari pihak keluarga, saudara atau pihak yang punya hubungan dekat dengan Anda.

Bayangkan betapa malunya Anda jika perusahaan Fintech menghubungi dan menyampaikan kepada mereka bahwa Anda belum melakukan kewajiban pembayaran pinjaman Anda.

#3 Mengurus sendiri permasalahan pembayaran pinjaman online tersebut.

Jangan menggunakan jasa pihak lain, seperti pengacara. Lebih baik Anda mengurus sendiri. Jika menggunakan jasa pihak lain, perusahaan Fintech akan menganggap Anda masih memiliki uang dan permohonan keringanan atau penyelesaian secara administrasi perkreditan akan ditolak.

#4 Cari pihak lain yang bersedia menjadi penanggung utang Anda.

Ini bisa menjadi jalan terakhir jika perusahaan Fintech menolak permohonaan Anda untuk keringanan pembayaran pinjaman atau penyelesaian secara administrasi perkreditan. Carilah pihak lain, baik itu saudara, kerabat atau teman dekat yang bersedia membantu Anda sebagai penanggung utang pinjaman online Anda.

Pihak penanggung inilah yang akan menanggung dan membayar utang Anda kepada perusahaan Fintech apabila di kemudian hari Anda benar-benar tidak sanggup membayar utang Anda. Penanggungan ini diatur pada Pasal 1820 KUH Perdata, yakni :

Penanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya.

Demikianlah solusi untuk Anda jika tidak bisa bayar pinjaman online, semoga dengannya permasalahan pembayaran pinjaman online Anda bisa segera selesai, sehingga Anda tidak perlu dikejar-kejar debt collector dari perusahaan Fintech seperti contoh kasus RP di atas.

Note : Anda butuh membaca artikel ini nanti di waktu senggang? Kabar baiknya sekarang Anda bisa DOWNLOAD artikel ini dalam bentuk file PDF. Silahkan langsung KLIK DOWNLOAD SEKARANG

Kalau bermanfaat tolong share ya… supaya manfaat artikel ini dapat dirasakan juga oleh banyak orang.

Terima kasih

Share :
Be the First to comment.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *